Catatan Senja


catatan hari iniPoto diambil dari masjid Albarokah Bumijo Tengah Yogyakarta

Ikhlas?


Apakah aku sudah ikhlas? jika saat melakukan sesuatu pekerjaan demi mendapatkan timbal balik atas apa yang dikerjakan? bolehkah demikian?

Teman, Aku juga Mereka


Teman, tahukah engkau bahwa selama ini mungkin…

Aku, kamu, dan semuanya ini hidup dalam kesendirian sekalipun kita berada pada dimensi dan waktu yang sama. Aku hanya memahaminya begitu saja, memahami hidup ini dengan melihat pengalamanku sendiri, kadang juga dengan melihat pengalaman orang lain, atau juga dengan mendengarkan cerita dari pengalaman orang lain. Begitu pula denganmu teman, selama ini engkau juga hidup dalam kesendirianmu. Kita memang selalu belajar tiap waktu, dari setiap kejadian yang dialami, dari setiap cerita yang didengar, dari tulisan yang dibaca, dari video yang kita tonton, dan dari semuanya yang ada baik itu sesuatu yang bersifat materi ataupun bukan materi. Mungkin saja dari semuanya ini kelak kita akan memiliki satu kesimlpuan akhir yang sama, atau juga mungkin kita akan mendapatkan kesimpulan akhir yang sama sekali berbeda sekalipun pengalaman yang kita lalui nyaris sama. Akan selalu ada banyak kemungkinan yang terjadi, dan semuanya berubah selalu beriringan dengan jalan waktu. Oleh sebab itu, sebelum kita sampai pada kesimpulan akhir itu, sebelum kita temui waktu akhir masing-masing diri, yang mungkin saja waktunya sudah dekat, atau juga masih jauh. yang mungkin penting kita pahami bersama adalah bahwa ada baiknya jika kita berpikir berulang kali tentang apa yang kita pikirkan. Jangan-jangan apa yang selama ini kita pahami masing-masing bukanlah pemahaman yang murni dan asli, maka dari itu baiknya marilah kita kembali memikirkan tentang apa yang kita pikirkan… (bersambung)

sebab hati

Jalan


Bukan siapa siapa
Tidak juga istimewa

Hanya sedang berjalan
Diantara banyak simpang

Menyelami kejadian kejadian
Bersama waktu

Begitu juga pada sisi dunia yang lain
Boleh jadi waktu tidak begitu istimewa

Sebab
Mereka dapat menyelam di panggung hidup dunianya bersama sang waktu

Tapi semuanya ini
Sekalipun terdapat banyak simpang
Ribuan bahkan tak hingga arah yang tersedia
Hanya ada satu arah jalan kembali
Kembali kepada yang Sejati

Madiun 13 Jumadil Awal 1436 H

Budaya Cium Tangan


budaya cium tangan

Mendadak pada suatu malam Markesot “diculik” seorang teman lamanya, diseret memasuki Madura. Yang di pelosok, bukan yang di kota. Itu yang menyebabkan Markesot jadi terbengkalai.

Seandainya perjalanan itu ke Washington atau Brusel, tak ada soal. Markesot bisa beririm superkilat satu-dua berkas via faksimile ke Surabaya. Tapi ini dipelosok Madura.

Dalam mekanisme modernitas tertentu, Madura jauh dibanding dengan Eropa ke Surabaya. Teknologi komunikasi telah mengubah pola-pola geografi sosial. Ada negara komunikasi tersendiri yang membuat Rio de Jeneiro menjadi tetangga sebelah, sementara tetangga sebelah malah jauh seperti langit dan bumi. Ini yang teknis komunikasi.

Belum lagi yang sifat “geografi birokrasi” atau “geografi kultural”. Tiap hari Markesot lewat depan kantor gubernuran, tapi jarak antara Markesot dan gubernur bisa sejauh jarak antara dunia dan akhirat. Tak ada “relevansi pembangunan” atau “relevansi birokratik” apapun yang memungkinkan Markesot berada dalam disket otak seorang gubernur.

Untunglah, selama tour de Madura itu–meskipun singkat –banyak hal yang menarik.

Nanti Markesot ingin berkisah tentang banyak sangka kita terhadap etnopsikologi Madura. Tentang bagaimana model antisipasi manusia Madura terhadap modernisasi –misalnya dibandingkan manusia Jawa–atau tentang peranan kamunitas santri dan kiai Madura dalam berbagai langkah besar sejarah Indonesia, dan seterusnya. Tapi kali ini yang ingin Markseot kendhurenkan adalah soal budaya cium tangan.

Kawan Markesot itu diundang untuk bertemu dengan beberapa komunitas Madura, beberapa pesantren, serta kelompok-kelompok lain dalam urusan penumbuhan masyarakat kecil diberbagai bidang. Rupanya ia cukup dihormati, sampai Markesot terharu tapi juga geli karena ditempat tertentu orang-orang menyambutnya dan berkerumun berebut mencium tangannya. “itu bodoh dan feodal!” bisik Markesot malam hari tatkala mereka hendak bernagkat tidur.

“ketika kali pertama tanganku dicium,” jawab temannya, “aku juga berpkiran persis seperti yang kau kemukakan. Tapi lama-lama pikiranku berubah, ada sesuatu yang baru yang mengalir bukan hanya di otakku, melainkan juga dalam jiwaku…”

“Kau sedang mabuk kehormatan!” protes Markesot.

“Insya Allah tidak,” jawab temannya, “di mana pun aku sering menjumpai orang yang mencium tanganku, seperti aku sendiri selalu mencium tangan orang tuaku atau kakek nenekku kalau bersalaman. Itu memang sudah tradisi masyarakat kita, terutama dikalangan Islam tradisional, terutama di NU…”

“Feodal, bukan?”

“Mungkin ya, mungkin tidak. Biasanya, kalau tanganku dicium, aku lantas cepat-cepat mengambil tangan orang itu untuk kucium ganti. Lantas kurangkul dia dan kajak ngobrol, sehingga kami merasa sejajar dan berdiri sama tinggi sebagai sahabat.”

“Itu yang kumaksud! Budaya cium tangan menunjukkan adanya posisi lebh tinggi seseorang atas orang lain.”

“Orang yang mencium tangan tersebut merendah diri. Apakah itu salah? Merendahkan diri itu baik. Meninggikan diri itu yang salah. Kalau kau datang menyodorkan tanganku untuk dicium, itu salah.”

“itu soal teknis. Tapi hakikatnya yang tinggi rendah itu tidak egaliter. Tidak islami.”

Teman markseot tertawa. “Mencium tangan,” katanya ,”sebenarnya mirip dengan kebiasaan anak-anak muda di kota untuk minta tanda tangan artis atau orang yang di idolakan. Keringan Michael jackson dijilati oleh fans-nya, celana pendek Mick Jagger nanti dilelang, dan BH Madonna disimpan di museum. Dulu kiper PSSI, Ponirin, diciumi cewek di mana-mana, banyak laki-laki berdesedia menggendong atau mbrangkang ditunggangi Meriam Beliana….”

“Jangan mengada-ada!” sahut Markesot.

“Maksudku begini. Ada perbedaan cara penghormatan masyarakat dalam budaya cium tangan itu dan fans dalam bdaya bintang di kota-kota besar. Cium tangan tak akan terjadi antara kiai laki-laki dan santriwati, misalnya. Mencium tangan juga tidak merepotkan kiainya, tapi kalau minta tanda tangan itu merepotkan. Ngasih kerjaan serius yang melelahkan. Juga pola ini cenderung egois; untuk kepentingan memori si peminta tanda tangan.

“Budaya cium tangan juga sangat dibatasi oleh berbagai macam etika. Beda dengan cium pipi Ponirin atau bintang film, atau apalagi dengan yang rebutan cawat artis.”

“Kemudian yang lebih penting: siapa idola anak-anak kota? Apa kriteria idola mereka? Apa persyaratan kualitatifnya? Para fans budaya bintang di kota lebih memilih kecantikan wadag, glamour, prestasi-prestasi yang cukup terkait dengan nilai mendasar manusia.”

“Sedangkan santri-santri tradisional itu hanya mencium tangan seseorang yang mereka percayai betul bahwa ia memiliki ilmu agama yang mempuni. Bahwa ia berakhlak mulia. Bahwa ia karib dengan Tuhan. Yang mereka cium sebenarnya adalah karamah atau kemuliaan. Orang yang tanggannya dicium itu sekadar medium ata pengantar dari kemuliaan yang mereka abdi. Apakah kita menganggap rendah orang yang mengabdi kepada kemuliaan? Kenapa pula kita menganggap tinggi orang-orang yang mengabdi pada hedonisme, glamour, cawat bintang film, dan keringat ketiak artis?

“Tentu saja saya tidak sombong dan goblok untuk mengatakan diri saya ini mulia, mengerti agama, dan berakhlak luhur. Kemungkinan besar mereka salah sangka atau salah nilai terhadap saya, sehingga mereka mencium tangan saya karena disangka saya ini pintar dan hebat. Tapi yang mereka cium bukan saya, bukan tangan saya, melainkan pancaran kemuliaan. Yang memancarkan kemuliaan itu Tuhan, bukan saya. Saya ini bukan apa-apa. Tapi, kemuliaan itu sangat apa-apa.

“Dan kemuliaan itulah yang cukup diperhatikan oleh sikap budaya manusia kota dalam pop-culture atau mass-culture bintang-bintang glamour itu….”[ ]

ditulis ulang dari buku Markesot Bertutur karangan Emha Ainun Najdib

Soegeng

Waspada Penipuan saat Belanja Online

tokoonline

Selamat malam teman-teman semua, malam ini tidak tahu mengapa saya berfikir untuk menulis catatan ini di blog. Tiba-tiba saja teringat pengalaman 4 tahun yang lalu pada tahun 2011. Pernah sekali saya dapat pelajaran yang amat penting, bahwa ternyata kepercayaan saja tidak cukup untuk dapat melakukan transaksi jual-beli dengan sehat. Terutama jual beli online yang sekarang ini mulai “naik daun”, mulai dari olx, kaskus, tokopedia, dan lain-lainnya.

Dengan berbagai macam iklan di TV atau internet, sekarang ini belanja online mulai dilirik banyak orang. Tetapi kawan-kawan sekalian harus ingat bahwa saat melakukan transaksi jual beli online (melalui internet) ada beberapa hal yang harus diingat.

Ciri-ciri umum dari penjual PALSU atau (PENIPU) adalah menawarkan harga barang yang lebih MURAH pada postingan Iklan barangnya. Jadi ingat JANGAN TERGIUR HARGA MURAH YANG SELISIHNYA BEDA JAUH DENGAN HARGA PASARAN BARANG TERSEBUT YANG DIIKLANKAN.

Kemudian beberapa hal yang perlu dipertimbangan saat JUAL BELI ONLINE :

Pertama : Masalah PEMBAYARAN, sebagai pembeli online sebaiknya tidak tergesa-gesa mengirimkan pembayaran yang biasanya berupa uang kepada penjualnya. Sebab kita belum tahu apakah penjualnya asli atau PALSU alias PENIPU. Jadi sekali lagi JANGAN TERBURU-BURU MENTRANSFER UANG PEMBAYARAN kepada penjualnya.

Ke-dua  : Pastikan bahwa penjual yang akan anda beli barangnya adalah penjual yang memiliki “track record” yang baik. Jika Anda meragukan identitas penjual maka urungkan saja niatnya membeli barang tersebut. Untuk memeriksa apakah penjual tersebut asli atau penipu misalnya dengan cara mengetikkan nama atau  nomor teleponnya pada google dan lihat tulisan-tulisan yang ditampilkan google, barangkali akan terlihat “track record” dari penjualnya. Jika sudah memeriksa profil dari penjual dengan cara ini, mungkin perlu juga untuk mencari tahu atau bertanya kepada teman, saudara, rekan kerja yang pernah belanja online sebelumnya. Saran penulis adalah hindari melakukan jual beli secara tidak langsung, jadi saat ingin membeli barang dari sebuah situs jual-beli di internet pastikan penjualnya adalah orang yang juga berasal dari daerah atau kota yang sama dengan anda, dengan demikian anda dapat bertemu langsung dengan penjualnya. Akan tetapi cara ini juga kurang aman sebab bisa saja ada orang yang jahat sehingga mengaku sebagai penjual online untuk melakukan aksi perampokan. Nah untuk berjaga-jaga maka PASTIKAN SAAT KETEMUAN atau COD di daerah, jangan di tempat yang sepi, dan jangan COD atau KETEMUAN seorang diri saja. Apalagi jika kawan adalah seorang wanita, pastikan untuk mengajak beberapa kawan yang berpengalaman agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. misalnya begini, lihatlah (klik link pengalaman penipuan pada kaskus ini), mungkin dapat membantu.

Ke-tiga : Jika melihat barang yang terdapat pada blog, pastikan bahwa blog milik penjual atau tokonya adalah blog profesional yang lebih terpercaya, namun ini juga tidak begitu menjamin sebab harga domain sekarang juga bisa murah antara 25.000 sampai 100.000. sehingga saat ini cukup sulit untuk membedakannya, mungkin sebaiknya anda amati profil penjual atau toko nya, lalu perhatikan alamat toko resmi dan nomor telepon tokonya. Ingat, nomor telepon kantor biasanya telepon rumah bukan nomor HP. Beberapa mungkin ada tetapi untuk lebih baiknya mungkin kita melihat lebih condong kepada nomor telepon kantor khusus, bukan berupa nomor HP. Boleh saja pakai nomor HP tetapi pastikan bahwa Kawan-kawan telah mengenal baik penjualnya. Lagi-lagi jika nomor telepon toko dan alamat tokonya tidak jelas, sebaiknya urungkan saja niat membeli barang secara online dari toko tersebut.

Ke-empat : PASTIKAN SPESIFIKASI BARANG yang akan dibeli sudah dipahami dengan sepenuhnya agar tidak ada penyesalan setelah transaksi. Akan lebih baik jika ada perjanjian apabila barang tidak sesuai dengan iklan akan ada tindakan tanggung jawab dari penjualnya, misalnya dengan mengganti barang dengan spesifikasi yang sesuai atau mengembalikan uang pembayaran secara penuh kepada pembeli.

Ke-lima : Saran dari saya adalah untuk tidak membeli barang secara ONLINE apabila barang yang dibutuhkan masih tersedia pada toko-toko didekat tempat tinggal (masih dalam jangkauan) untuk menghindari resiko penipuan. Namun, jika terpaksa maka pastikan bahwa proses jual beli Online yang dilakukan adalah aman dengan cara memperhatikan pertimbangan yang saya uraikan di atas.

Begitulah kawan, sampai disini dulu tulisan ini, kelak kita akan lanjutkan pada bahasan yang lebih spesifik mengenai cara aman jual-beli online.

Catatan ini ditulis langsung di Yogyakarta

Soegeng

Aku Takkan Rindu


Waktu ini saat menulis catatan ini, ada banyak sekali rasa-rasa hati yang selama ini tak jua ku mengerti…Entahlah, teman baru, pengalaman baru, kampus baru, kehidupan baru, tentang rindu, benci, iri, dan semuanya menjadi satu. Membuatku sulit menjelaskannya satu persatu. Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa, buat kalian teman sekelasku. Satu malam ini, dan baru saja terpikir olehku tentang kisah kita. Setelah sekian banyak hal kita lalui bersama.

Akhirnya berada dipenghujung usia mahasiswa kita, izinkan aku menulis catatan ini, bukan sebagai prasasti, hanya sebagai catatan biasa saja. Baiklah kita mulai saja teman,

Sejak awal kita semua selalu Berbeda pikir, beda pendapat, beda kesukaan, dan semua perbedaan yang ada. Dan Sebentar lagi, mungkin beberapa bulan ke depan ini, atau mungkin beberapa hari ke depan ini, akan ada perpisahan yang terpisah, dan mungkin juga akan ada kenangan yang hilang bersama hilangnya pertemuan kuliah kita. Mendengar kabar teman yang sudah memulai penelitian, mengajukan judul penelitiannya, menyelesaikan kkn, atau memulai kkn, dan bahkan mendengar kabar berita teman yang mengikuti ujian perbaikan, mengulang mata kuliah yang belum lulus, dan kabar dari teman-teman yang belum bisa ikut kkn tahun ini, Semuanya terasa aneh, sebab 7 semester kita lalui bersama yang itu artinya bahwa lebih kurang sudah tiga setengah tahun kita jumpa. Rerata 365 hari dikalikan tiga setengah adalah 1277 hari telah kita habiskan untuk belajar bersama. Entah hanya aku yang merasakan atau teman-teman juga rasakan, ternyata hari-hari itu tak berjalan membuat erat hubungan kita. Selalu saja ada kubu-kubu diantara kita, dan aku tak pernah tahu apa sebabnya.

Entah catatan ini sebagai luapan rasa rindu, benci, atau sebagai ungkapan kekecawaan. Mungkin saja aku sedang tidur, tidur panjang dan tak segera bangun dari mimpiku, mengapa aku selalu menginginkan semesta segera menghapus semua tentang kita. Biarlah kisah ini hanya diantara kita saja, hanya beberapa kali saja kita bersama, dan mungkin yang paling sering terjadi hanya dimatakuliah pak Oktova saja. Mimpi-mimpi untuk berpetualang bersama kini terasa semakin pudar warnanya. Ah, sudahlah, mungkin memang takdir yang membuatnya, maka biarlah takdir pula yang memutuskan bagaimana kelak akhirnya. Akankah kisah ini berujung bahagia? Berakhir dengan kesedihan? Tidak ada yang pernah tahu akhirnya. Jika kelak satu per satu teman kita bertemu dengan pak Rektor dengan busana Toga, mungkin cukup sudah kehadiran ibu dan ayah masing-masing menyaksikannya. Tak perlu kehadiran teman-teman lainnya pada momen yang mungkin menjanjikan bahagia ini, apalah arti kehadiran teman-teman sekalian pada momen yang mungkin penting ini. Mungkin ada yang datang, dan mungkin juga tidak ketika kelak diundang, sebab semuanya merasa sibuk dengan urusan masing-masing. Sebagaimana biasanya, selama hampir 4 tahun akhir ini, teman-teman pasti mengerti.

Mungkin teman-teman akan merindukannya, dan mungkin juga tidak. Sebab, tak ada jaminan kelak kita dipertemukan kembali. Dan jika ada pertanyaan tentang rindu, mungkin jawabannya adalah aku takkan rindu.

 Soegeng